7

Biaya Mahal Jadi Ganjalan Maskapai Beroperasi di Bandara Halim Perdanakusuma

Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta telah resmi melayani penerbangan komersial berjadwal dengan pesawat berkapasitas lebih dari 100 kursi mulai 10 Januari 2014. Namun, hingga kini baru maskapai penerbangan Citilink Indonesia saja yang sudah beroperasi di bandara yang sebelumnya digunakan untuk keperluan militer, penerbangan VVIP, sekolah penerbangan, dan penerbangan charter itu.

Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmodjo mengatakan, ada beberapa alasan yang membuat sejumlah maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia, Indonesia AirAsia, dan Lion Air membatalkan rencana untuk melayani penerbangan dari Banyuwangi Halim Perdanakusuma. Salah satunya adalah biaya operasional di Bandara Halim Perdanakusuma yang tinggi. “AirAsia mengundurkan diri, tidak jadi. Karena mungkin cost lebih banyak kalau di Halim, risikonya banyak, dia membatalkan diri,” papar Djoko.

Sementara itu, bagi maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia, perusahaan membatalkan rencana beroperasi di Bandara Halim Perdanakusuma karena ingin fokus melayani penumpang dari Bandara Soekarno-Hatta. Slot yang sudah didapatkan oleh Garuda Indonesia itu akhirnya diberikan untuk anak usahanya Citilink, agar bisa berekspansi lebih lanjut di Bandara Halim Perdanakusuma. Apalagi Citilink sudah memiliki penerbangan di bandara tersebut.

“Garuda yang sudah kita proses juga mengundurkan diri karena dia lebih berkomitmen di Cengkareng, dengan risiko dia tidak bisa menambah kapasitas, frekuensi dulu sampai kapasitas Cengkareng membaik, bertambah. Lion Air juga terakhir mereka tidak jadi, akhirnya sekarang tinggal Citilink,” tutup Djoko.

Foto: Tri Setyo Wijanarko / PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

Sumber : www.indo-aviation.com

6

Jika Tidak Terbang Sampai Februari 2015, SIUP Merpati Dicabut

Merpati Nusantara Airlines telah menghentikan kegiatan operasional sejak bulan Februari 2014. Hingga kini maskapai penerbangan milik pemerintah itu juga belum ada tanda-tanda akan beroperasi. Padahal, jika ingin terus terbang Merpati harus sudah beroperasi sebelum bulan Februari 2015.

Saat ini Merpati sudah kehilangan rute-rute yang dulu dilayaninya karena perusahaan telah melewati batas waktu penghentian sementara operasional yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan. “Air Operator Certificate (AOC) juga sudah dibekukan,” kata Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmodjo seperti dilansir detikFinance.

Djoko menuturkan, jika dalam waktu satu tahun sejak menghentikan operasional pada Februari 2014 Merpati Nusantara Airlines tak kunjung beroperasi, maka Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) maskapai penerbangan ini akan hangus dengan sendirinya. Sehingga, jika Merpati masih ingin beroperasi kembali harus mengajukan SIUP yang baru. “Selama dia masih menunjukkan, selama satu tahun ini, kan dia kemarin berhenti beroperasi bulan Februari 2014, jika sampai Februari 2015 dia masih bisa terbang, kenapa tidak,” kata Djoko lebih lanjut.

Menurut Djoko, jika Merpati memang masih ingin beroperasi, maskapai penerbangan ini sudah harus melakukan kegiatan penerbangan sebelum bulan Februari 2015. Pasalnya, saat ini pemerintah melalui Kementerian Perhubungan sedang menerapkan moratorium izin usaha penerbangan. Sehingga Kementerian Perhubungan tidak akan mengeluarkan izin usaha baru bagi maskapai penerbangan, termasuk untuk Merpati jika SIUP sudah hangus. “Kita tidak bisa memberikan privilege, semua sama. Maka tuntutannya sebelum Februari 2015 dia sudah harus terbang,” papar Djoko.

Djoko menambahkan, Merpati masih memiliki harapan untuk hidup. Tapi itu tergantung dari pemerintah sebagai pemegang saham. Hingga kini perusahaan penerbangan plat merah itu belum memberikan rencana bisnis kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan selaku regulator penerbangan di Indonesia.

Foto: Tri Setyo Wijanarko / PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

Sumber : www.indo-aviation.com

5

Jelang Mudik Lebaran, Kementerian Perhubungan Perluas Bandara Halim

Kementerian Perhubungan akan memperluas Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pada masa arus mudik dan arus balik Lebaran tahun ini. Ini dilakukan karena Bandara Halim Perdanakusuma sudah menjadi bandara komersial untuk penerbangan berjadwal sejak 10 Januari 2014.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan bahwa akan ada persiapan khusus di Bandara Halim Perdanakusuma menjelang Lebaran nanti. “Untuk kapasitasnya, kami pertimbangkan untuk diperbesar,” kata Bambang seperti dilansir INILAH.com.

Saat ini memang baru maskapai penerbangan Citilink Indonesia yang sudah melayani penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma ke sejumlah destinasi, seperti Palembang, Yogyakarta, Semarang, dan Malang, dengan total 16 penerbangan sehari, kombinasi dari penerbangan berangkat dan penerbangan yang datang.

Menurut rencana, Citilink akan menambah penerbangannya di Bandara Halim Perdanakusuma setelah mendapatkan delapan pasang slot limpahan dari induknya, Garuda Indonesia, dan saat musim mudik Lebaran nanti diprediksi jumlah penumpang yang melalui bandara ini akan meningkat drastis. “Diperkirakan akan terjadi lonjakan,” ucap Bambang.

Foto: Tri Setyo Wijanarko/PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

Sumber : www.indo-aviation.com

4

Mesin Kemasukan Burung, AirAsia Kembali Mendarat di Bandara Ahmad Yani

Lantaran diduga salah satunya mesin kemasukan burung saat terbang, pesawat Air Asia rute Semarang-Singapura terpaksa mendarat kembali ke Bandara Ahmad Yani, Selasa (13/5).

“Sempat tinggal landas, tapi kembali lagi karena salah satu mesin kemasukan burung,” kata General Affair and Communication Section Head PT Angkasa Pura I Bandara Ahmad Yani Semarang Anom Fitranggono, dilansir detik.com.

Menurut dia, pesawat airbus A320-200 dengan nomor penerbangan QZ662 yang mengangkut ratusan penumpang tersebut kembali mendarat ke Bandara Ahmad Yani dengan selamat kendati sempat berputar-putar sebelum mendarat.

Anom menyebut, atas kejadian itu, pesawat harus kembali ke bandara untuk menjalani perbaikan dan belum bisa dipastikan kapan pesawat tersebut dapat kembali mengudara.

Ia menuturkan, sejumlah penumpang memutuskan untuk menggunakan penerbangan lain untuk melanjutkan perjalannya. “Ada yang masih menunggu, tapi ada yang melanjutkan perjalanan dengan penerbangan lainnya,” katanya.

Hingga saat ini, pesawat dengan registrasi PK-AXM itu kini masih berada di parking stand 1 Bandara Ahmad Yani Semarang. “Masih di parking stand 1, menunggu (perbaikan) selesai,” tegasnya.

Di satu sisi maskapai sudah mengirimkan pesawat pengganti untuk mengangkut penumpang ke tempat tujuan.

Foto: Andika Primasiwi / PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

3

Riau Airlines Belum Bayar Pajak Rp 79 Miliar

Maskapai penerbangan yang sudah menghentikan operasinya sejak beberapa tahun yang lalu, Riau Airlines, masih mempunyai tunggakan pembayaran dengan nilai yang cukup besar. Tidak tanggung-tanggung, beban pajak yang mesti ditanggung Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Riau itu mencapai Rp 79 miliar.

Kepala Biro Administrasi Ekonomi Setdaprov Riau Syahrial Abdi membenarkan adanya tunggakan pajak Riau Airlines yang mencapai Rp 79 miliar tersebut. “Kita sudah lihat dan terima surat tunggakan pajak PT Riau Airlines, jumlahnya sebesar Rp 79 miliar,” kata Syahrial Abdi seperti dikutip dari GoRiau.

Meskipun demikian, dia mengatakan bahwa pihak Pemerintah Provinsi Riau akan mempelajari tagihan tunggakan pajak itu karena Pemerintah Provinsi Riau bukan menjadi satu-satunya pemegang saham maskapai penerbangan Riau Airlines. Menurutnya masih ada beberapa kabupaten atau kota yang juga menjadi pemegang saham maskapai penerbangan tersebut. “Ini yang akan kita pelajari dan kita luruskan terlebih dahulu,” ujarnya.

Syahrial mengatakan, saat ini Pemerintah Provinsi Riau masih akan melihat dan meluruskan kemana seharusnya beban pajak itu ditujukan karena di dalam lampiran sudah ada nomor wajib pajak dan lainnya. “Kemana sebenarnya tunggakan pajak tersebut ditujukan,” kata Syahrial.

Sebelumnya, maskapai penerbangan Riau Airlines ini berencana kembali dihidupkan dengan menggandeng investor lain. Namun rencana ini hingga sekarang belum juga terwujud.

Foto: Istimewa

Sumber  : www.indo-aviation.com

2

Jumlah Armada Garuda Indonesia Sudah Capai 141 Pesawat

Direktur Utama  PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) Emirsyah Satar mengungkapkan, jika jumlah pesawat maskapai penerbangan milik pemerintah itu sudah bertambah banyak seiring kondisi sektor penerbangan yang saat ini sudah berkembang pesat.

“Pesawat kita akhir 2006 hanya 48 buah, hari ini 141 buah. Penumpang hanya 9,5 juta orang, tahun lalu lebih dari 20 juta orang,” katanya belum lama ini seperti dilansir detik.com.

Emir menyebut, frekuensi penerbangan maskapainya sudah mencapai 600 penerbangan per hari dibanding pada 2006 lalu, di mana jumlah penerbangan maskapai ini tidak 100 penerbangan per hari.

Emir mengatakan, Garuda akan meningkatkan strategi dan kedisiplinan di tengah kompetisi dunia penerbangan yang makin ketat. Dia menyebut, tengah menurunnya kinerja Singapore Airlines, harus menjadi acuan Garuda untuk bekerja makin cerdik, cepat, dan membuat keputusan yang cepat.

“Apa yang kita capai adalah hasil dari kerjasama kita semua. Nggak ada superman dalam sehari. Tugas kita continue membangun Garuda lebih besar lagi dan mempertahankan Garuda sebagai the best airlines, sehingga Garuda bisa semakin respected di dalam negeri dan dunia. Brand airlines yang paling banyak keluar di luar negeri itu juga Garuda. Nah, inilah tugas kita untuk mempertahankan,” papar Emir.

Foto: Andika Primasiwi / PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

Sumber : www.indo-aviation.com

1

Kemenhub: Dua Maskapai Tertarik Jadi Investor Tigerair Mandala

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengatakan bahwa maskapai penerbangan Tigerair Mandala sedang goyang dan membutuhkan investor baru. Manajemen perusahaan kini sedang mencari investor untuk memberikan suntikan dana agar Tigerair Mandala tetap bisa beroperasi.

Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmodjo mengatakan bahwa dua maskapai penerbangan yang tertarik berinvestasi pada Tigerair Mandala adalah Citilink Indonesia dan Indonesia AirAsia. ” Mandala katanya lagi goyang, mereka sedang mencari investor. Sudah ada dua posisi investor, Citilink dan Indonesia AirAsia. Finalnya belum tahu karena mereka belum lapor ke kita,” katanya Djoko Murjatmodjo seperti dilansir detikFinance.

Menurut Djoko Murjatmodjo, Tigerair Mandala sudah melaporkan rencananya mencari investor baru kepada Menteri Perhubungan EE Mangindaan. Meskipun demikian, maskapai penerbangan yang berafiliasi dengan Tigerair dari Singapura itu belum melaporkan rencananya kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara selaku regulator. “Mereka lapor ke menteri, dan Mandala sudah lapor. Setelah itu dia proses, setelah selesai, dia nanti datang lapor ke kita, nanti kita revisi Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP), karena dalam SIUP itu ada pemegang ssahamnya,” tutur Djoko.

Di sisi lain, Citilink Indonesia yang berminat membeli saham Tigerair Mandala itu juga berencana menjual 40 persen sahamnya. “Itu skema bisnisnya, bisa juga dia jual saham 40 persen, hasilnya dipakai untuk membeli saham (Tigerair Mandala) itu kan bisa. Skema bisnis kan macam-macam,” ungkap Djoko.

Meskipun demikian, hingga kini belum diketahui secara pasti investor yang akan membeli 40 persen saham Citilink Indonesia. Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar hanya mengambil bahwa saham Citilink diminati oleh dua maskapai penerbangan.

Kabarnya, Singapore Airlines menjadi maskapai penerbangan yang akan membeli 40 persen saham Citilink. Selanjutnya Citilink akan mengambil alih 40 persen saham Tiger Airways Holdings Limited pada Tigerair Mandala. Singapore Airlines sendiri merupakan salah satu pemilik saham Tiger Airways Holdings Limited, selaku operator maskapai penerbangan berbiaya rendah Tigerair. Meskipun demikian, kabar ini belum dikonfirmasi kepada pihak yang terkait.

Foto: Arif Fauzi / PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

Sumber : www.indo-aviation.com